Batam, News, Kepri
Egi | Selasa 13 Oct 2026 17:56 WIB | 54
Seorang warga di perumahan Batam Center menunggu air mengalir (foto: ist)
Matakepri.co.id Batam - Dampak pemadaman listrik massal atau blackout yang melanda Kota Batam, Kepulauan Riau, Senin (12/10/2026), masih dirasakan masyarakat. Tak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, pasokan air bersih ke rumah warga juga dilaporkan tidak mengalir hingga dua hari setelah kejadian.
Kondisi tersebut membuat warga terpaksa mencari sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Sejumlah warga terlihat mengantre dan menyiapkan berbagai wadah, mulai dari jeriken hingga galon, demi mendapatkan air bersih untuk keperluan mandi, mencuci, memasak, dan kebutuhan lainnya.
Situasi ini menjadi persoalan tersendiri bagi masyarakat, terutama mereka yang mengandalkan pasokan air dari jaringan perpipaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Salah seorang warga Batam Center, Bobi, mengeluhkan kondisi air bersih yang belum kembali mengalir ke rumahnya. Menurut dia, gangguan tersebut sangat menyulitkan karena air merupakan kebutuhan utama yang tidak bisa ditunda.
“Sudah dua hari air tidak mengalir ke rumah. Kami terpaksa mencari air ke tempat lain dan mengantre untuk mendapatkan air bersih. Kondisi ini tentu sangat menghambat aktivitas sehari-hari,” keluh Bobi.
Ia mengatakan, ketika pasokan air terhenti, warga harus mengatur ulang berbagai kebutuhan rumah tangga. Aktivitas yang biasanya dapat dilakukan dengan mudah menjadi lebih sulit karena masyarakat harus terlebih dahulu memastikan ketersediaan air.
Bagi warga yang memiliki anak maupun anggota keluarga lanjut usia, kondisi tersebut juga menambah beban karena kebutuhan air bersih harus tetap terpenuhi setiap hari.
Antrean warga untuk mendapatkan air pun menjadi gambaran bagaimana dampak blackout tidak hanya dirasakan saat listrik padam, tetapi juga dapat berlanjut pada kebutuhan dasar masyarakat setelah gangguan terjadi.
Warga berharap pasokan air bersih segera kembali normal agar aktivitas rumah tangga dan pekerjaan sehari-hari tidak terus terganggu.
Masyarakat juga membutuhkan informasi yang jelas mengenai penyebab terganggunya distribusi air, wilayah yang terdampak, serta perkiraan waktu pemulihan agar dapat mempersiapkan kebutuhan air selama gangguan berlangsung.
Hingga pasokan kembali normal, warga terpaksa mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Situasi ini sekaligus memperlihatkan pentingnya keandalan layanan dasar yang saling berkaitan, terutama listrik dan air, dalam menunjang kehidupan masyarakat perkotaan.
Bagi warga Batam, pemulihan pasokan listrik saja belum cukup jika air bersih masih belum mengalir ke rumah-rumah. Ketersediaan air menjadi kebutuhan mendesak yang diharapkan segera mendapat penanganan agar masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas secara normal. (Egi)
Redaktur: ZB