Batam, News, Kepri

Puslabfor Temukan Rambut Kera di Komponen Trafo Saat Selidiki Blackout

Egi | Rabu 21 Oct 2026 22:31 WIB | 62

Bright PLN
Polda/Polres/Ta dan Polsek
Aset Daerah
Mabes Polri


Kasubdit Lakabakar Puslabfor Bareskrim Polri, Kompol Henry Siahaan jelaskan kerja alat PLN Batam (foto: Egi)


Matakepri.co.id Batam -  Gangguan listrik massal atau blackout yang melanda Batam dan Bintan diduga bermula dari masuknya seekor kera ke area Trafo 1 Gardu Induk Sei Harapan, Kota Batam. Hewan tersebut diduga memicu korsleting yang kemudian berkembang menjadi gangguan kelistrikan lebih luas akibat sistem pengaman yang tidak bekerja secara maksimal, Rabu (21/10/2026).

Temuan itu disampaikan Kasubdit Lakabakar Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Bareskrim Polri, Kompol Henry Siahaan, berdasarkan hasil pemeriksaan barang bukti terkait insiden yang terjadi pada Senin (12/10/2026).

Henry menjelaskan, hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kerusakan dan bekas terbakar pada bagian atas Trafo 1. Kondisi tersebut mengarah pada dugaan terjadinya hubungan arus pendek antara sisi tegangan 150 kilovolt (kV) dan 20 kV.

"Dugaan keterlibatan kera diperkuat dengan temuan bangkai hewan tersebut serta hasil pemeriksaan sampel rambut yang ditemukan pada salah satu komponen trafo," kata Henry.

Ditemukan kera yang sudah mati dan diduga menyebabkan short circuit di Trafo 1 GI Sei Harapan.

"Saat pemeriksaan barang bukti pipa Buccholz, terdapat sampel rambut, dan ditemukan kecocokan antara sampel dan rambut kera,” tuturnya.

Selain dugaan korsleting akibat masuknya hewan liar, penyidik juga menemukan persoalan pada perangkat pengaman kelistrikan.

Henry menyebut perangkat tripping lockout, yang berfungsi membantu mengamankan sistem ketika terjadi gangguan, tidak berfungsi secara maksimal.

"Kondisi tersebut diduga membuat gangguan pada Trafo 1 tidak dapat dibatasi sebagaimana mestinya. Akibatnya, gangguan berkembang hingga menyebabkan pembangkit terlepas dari sistem kelistrikan," bebernya.

Dampak gangguan tersebut kemudian meluas dan memicu pemadaman listrik di Batam dan Bintan.

"Temuan ini menunjukkan bahwa insiden blackout tidak hanya berkaitan dengan dugaan korsleting pada trafo, tetapi juga menyangkut kinerja sistem proteksi yang seharusnya berperan mencegah gangguan pada satu titik berkembang menjadi gangguan yang lebih luas," imbuhnya.

Pemeriksaan barang bukti oleh Puslabfor Bareskrim Polri menjadi bagian dari upaya mengungkap penyebab gangguan kelistrikan yang berdampak terhadap aktivitas masyarakat di Batam dan Bintan.

Hasil pemeriksaan tersebut mengungkap dua aspek penting dalam peristiwa ini, yakni dugaan masuknya kera yang memicu hubungan arus pendek serta tidak maksimalnya fungsi perangkat pengaman kelistrikan.(Egi)

Redaktur: ZB



Share on Social Media