Nasional , News
Riki | Kamis 30 Oct 2025 16:28 WIB | 1611
Foto: ist
Matakepri.co.id, Jakarta - Polemik proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh kembali memanas usai laporan terbaru menunjukkan kerugian triliunan rupiah yang harus ditanggung oleh sejumlah BUMN yang terlibat.
PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) — konsorsium pemegang saham mayoritas PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) — tercatat rugi Rp 4,195 triliun pada tahun 2024, dan kembali menambah kerugian Rp 1,625 triliun hanya dalam enam bulan pertama tahun 2025.
Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah menolak penggunaan APBN untuk menutup utang proyek ini.
“Saya menolak APBN kembali dilibatkan dalam pembayaran utang KCIC,” tegas Purbaya, merespons usulan agar pemerintah membantu pelunasan utang tersebut.
Setelah dilakukan audit menyeluruh, proyek KCJB mengalami pembengkakan biaya (cost overrun) sebesar 1,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp 19,96 triliun (kurs Rp 16.600).
Total investasi kini mencapai 7,27 miliar dolar AS atau sekitar Rp 120,95 triliun.
Sebagai perbandingan, jumlah itu setara dengan biaya pembangunan hampir 5 menara Burj Khalifa, gedung tertinggi di dunia yang berdiri di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA).
Untuk diketahui, pembangunan Burj Khalifa yang dirancang oleh arsitek dunia Adrian Smith, menelan biaya sekitar 1,5 miliar dolar AS atau setara Rp 24,95 triliun.
Dengan kata lain, dana yang digelontorkan untuk proyek Whoosh bisa membangun lima menara Burj Khalifa sekaligus.
Kerugian besar yang dialami PSBI dan KCIC menambah beban bagi BUMN anggota konsorsium seperti KAI dan WIKA.
Pengamat transportasi menilai proyek Whoosh kini berubah menjadi beban berat finansial bagi BUMN, meski sebelumnya digadang-gadang sebagai simbol kemajuan transportasi nasional. (*)
Redaktur: ZB