Batam

Angin Sarkastik dan Kritik Tajam: Puisi di Batam Soroti 'Luka' Sumatera Akibat Kebijakan

Juliadi | Senin 08 Dec 2025 10:38 WIB | 882

Organisasi Jurnalis


Ketua PWI Batam, Muhammad Khafi. (Foto : Ist)


Matakepri.com, Batam -- Dalam di Suratan Coffee & Restau, Sabtu (6/11/2025), bukan sekadar malam puisi biasa. Di bawah penerangan lampu jalanan yang sederhana, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kepri dan Batam bersama Komunitas Seni Rumahitam menggelar "Malam Sastra Sumatera Luka" sebagai ajang donasi sekaligus panggung protes.


Acara yang dipadati lebih dari 15 orang, termasuk para jurnalis, seniman, dan tokoh masyarakat, ini menyoroti luka bencana di Sumatera yang dinilai lebih banyak digores oleh "kebijakan" dan "kesalahan pengelolaan" ketimbang faktor alam semata.


Dalam pembukaannya, Ketua Panitia dan Presiden Rumahitam, Tarmizi, meluapkan kemarahannya. Ia menegaskan, tak ada keindahan yang bisa ditulis dari bencana yang akarnya adalah kelalaian.


"Bencana itu hasil dari kesalahan pengelolaan. Tak ada puisi yang bisa dibuat indah dari bencana yang lahir bukan dari alam semata, melainkan dari kelalaian para pemilik pena perizinan dan para penjaga yang tertidur di menara pengawasan," ujarnya tegas. 

Senada dengan Tarmizi, Ketua PWI Batam, Muhammad Khafi, didaulat tampil. Ia memilih irit kata, namun mengakui betapa pilunya para jurnalis yang biasanya "kebal" melihat adegan memilukan, kini merasa mellow saat rumah dan kerabat sahabat-sahabat mereka di Sumatera hanyut.


Puisi-puisi yang dibacakan malam itu disifati sebagai "pisau dapur tumpul yang keras kepala"—tak mampu membelah, tetapi memaksa menggoreskan protes.


 * Tarmizi membacakan karyanya yang sarkastik, “Ini Bukan Puisi, Hanya Serupa Puisi.”


 * Sementara puisi Ketua PWI Batam, “Batam Menandah Getir yang Sama,” dibacakan dengan penghayatan mendalam oleh Ketua PWI Kepri, Saibansah Dardani, yang menyebutnya terdengar seperti elegi.


Solidaritas ini bahkan mampu "memaksa" mereka yang biasanya berkutat dengan angka dan rumus menjadi puitis. Sanusi, Wakil Ketua Permasa Batam dan seorang sarjana teknik, mengaku baru pertama kali membaca puisi di depan umum. 


Ia membawakan puisi berjudul “Wahai Lelaki Pemanggul Karung Beras” sebagai wujud kepedulian terhadap bencana di Tanah Rencong.


Malam haru itu ditutup dengan apresiasi dari Saibansah Dardani yang menyampaikan bahwa sejumlah tokoh telah menitipkan donasi. Di saat yang sama, gerimis pun turun, seolah mengamini getaran protes dan emosi para seniman Rumahitam seperti Hening dan Taring, yang kata-katanya bergetar lebih keras dari pengeras suara.


Tarmizi mengakhiri acara dengan ucapan terima kasih atas kehadiran yang melampaui ekspektasi. Angin jahil di luar seolah mengingatkan: bahwa di balik luka Sumatera, yang perlu dirawat bukan hanya tanahnya, melainkan kepedulian kolektif kita pada sebab dan akibat dari luka itu sendiri. (***) 


Redaktur : ZB



Share on Social Media