Batam
Juliadi | Minggu 17 May 2026 21:21 WIB | 561
Kericuhan final turnamen voli piala Walikota Batam. (Foto: Adi)
Matakepri.co.id, Batam - Babak final turnamen bola voli bergengsi memperebutkan Trofi Wali Kota Batam dan Ibu TP PKK Kota Batam di Lapangan Olahraga Abdul Jafar, Tiban Center, Minggu (17/5/2026), berakhir antiklimaks. Wali Kota Batam yang juga Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, beserta istri terpaksa dievakuasi ketat oleh aparat kepolisian setelah kericuhan besar pecah di tengah pertandingan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, tensi tinggi di tribun penonton akhirnya pecah menjadi keributan. Kericuhan bermula dari aksi saling ejek antar-suporter di depan kubu BP Batam yang kemudian berujung pada aksi saling lempar botol mineral ke arah lapangan dan tribun.
Situasi semakin tidak kondusif ketika laga memasuki waktu time out. Kericuhan diduga kian tersulut akibat tindakan tidak profesional dari salah satu oknum kubu sponsor PGRI yang melakukan aksi menyawer pemain dengan uang pecahan Rp 50 ribu di tengah pertandingan.
"Keributan bermula saat terjadi aksi saling lempar botol di tribun penonton. Situasi panik, bahkan kubu sponsor PGRI tidak ketinggalan turut melemparkan botol mineral ke lapangan. Ada juga yang terkena cipratan air botol," ujar salah seorang penonton di lokasi kejadian kepada awak media.
Akibat insiden ini, seorang pelatih berinisial Rahmat dilaporkan menjadi korban hantaman botol mineral tepat di bagian wajah hingga mengeluarkan darah segar dari mulutnya. Penonton yang panik langsung berhamburan ke tengah lapangan dan berlarian keluar untuk menyelamatkan diri.
Melihat situasi yang semakin anarkis dan tidak terkendali, petugas keamanan bergerak cepat mengamankan Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, beserta istri (Ketua TP PKK Kota Batam). Keduanya langsung dievakuasi oleh jajaran Polsek Sekupang dan Satpol PP keluar dari area pertandingan demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Agenda penyerahan trofi yang seyogianya dipimpin langsung oleh Wali Kota Batam terpaksa buyar dan dialihkan sepenuhnya kepada pihak panitia.
Kekecewaan mendalam disampaikan oleh Deputi BP Batam, Ariastuty Sirait. Ia menyayangkan sikap panitia yang dinilai kurang profesional dalam mengawal jalannya laga final yang prestisius ini.
"Kami kecewa kepada pihak panitia yang tidak profesional, bagaimana bisa pemain mendapatkan saweran saat bertanding," tegasnya.
Di tengah situasi yang kacau, Kapolsek Sekupang Kompol Hippal Tua Sirait memberikan imbauan tegas agar penonton menahan diri dan tidak bertindak anarkis.
"Kami hadir di tempat untuk mengamankan situasi sampai benar-benar kondusif," ungkapnya.
Dalam laga final tersebut, Tim Putra PGRI berhasil keluar sebagai juara setelah menang telak dengan skor 3 – 2 atas BP Batam.
Redaktur : ZB