Batam
Juliadi | Selasa 26 May 2026 12:35 WIB | 221
Puuhan motor milik karyawan PT Cellular Workshop Indonesia .(Foto : Adi)
Matakepri.co.id, Batam - Kawasan kompleks pertokoan Shangrila, Sekupang, Batam, mendadak berubah menjadi lautan kendaraan roda dua. Ribuan motor milik karyawan PT Cellular Workshop Indonesia (CWI) yang memadati area parkir ruko kini memicu polemik panas antara pelaku usaha dengan pihak manajemen perusahaan.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Selasa (26/5/2026), akses utama menuju pertokoan tampak sesak. Deretan panjang motor karyawan menyita hampir seluruh ruang parkir yang seharusnya menjadi fasilitas penunjang bagi konsumen dan pemilik ruko. Kondisi ini membuat suasana bisnis di kawasan tersebut menjadi "mati suri" karena akses bagi pelanggan tertutup total.
Salah satu pemilik ruko yang merasa dirugikan mengungkapkan kekesalannya.
Ia menyatakan bahwa sejak parkir massal tersebut diberlakukan, omzet usaha mereka merosot tajam lantaran konsumen tidak memiliki ruang untuk memarkirkan kendaraannya.
"Kami benar-benar terganggu. Tamu atau pembeli yang mau datang jadi malas karena sama sekali tidak ada tempat parkir yang tersisa. Akses keluar-masuk kami pun jadi susah," ujanya.
Ia menegaskan bahwa peruntukan area parkir ruko adalah untuk kelancaran roda ekonomi pertokoan, bukan sebagai lahan parkir operasional pabrik.
"Warga di sini menegaskan daerah ruko ini bukan tempat umum atau fasilitas penunjang untuk operasional pabrik. Mereka harusnya punya fasilitas parkir sendiri di dalam area pabrik," tegasnya.
Suasana di Kompleks Shangrila saat ini kian memanas akibat gesekan kepentingan yang belum menemukan titik terang. Para pemilik ruko menuntut adanya solusi jangka panjang agar hak-hak mereka sebagai pelaku usaha di kawasan tersebut tidak terus-menerus dirampas.
Tuntutan utama yang disuarakan adalah agar PT CWI segera mengalihkan area parkir karyawannya ke dalam lingkungan internal pabrik. Langkah ini dinilai sebagai satu-satunya cara agar kawasan pertokoan Shangrila dapat kembali berfungsi sebagaimana mestinya tanpa harus mengorbankan kenyamanan publik. (Adi)
Redaktur : ZB