Batam, News, Kepri

BGN Perkuat Rantai Pasok MBG di Batam, Libatkan Koperasi hingga Petani Lokal

Egi | Selasa 07 Apr 2026 20:19 WIB | 420

Badan Gizi Nasional
Makan Bergizi Gratis


Pelaksanaan forum Sinergi Ekonomi Kerakyatan di Kantor BKKBN (Foto: Egi)


Matakepri.co.id Batam - Badan Gizi Nasional (BGN) RI mulai menata penguatan rantai pasok Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Batam. Langkah ini tidak hanya fokus pada pelaksanaan program, tetapi juga menekankan keterlibatan koperasi, BUMDes, UMKM, hingga petani dan peternak lokal sebagai tulang punggung penyediaan pangan.

Upaya tersebut mengemuka dalam pertemuan yang digelar di Kantor Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Selasa (7/4/2026). Forum ini dihadiri Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pelaku usaha, koperasi, hingga perwakilan BP Batam.

Direktur Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat BGN, Tengku Syahdana, menegaskan bahwa kehadiran dapur MBG harus menjadi peluang besar bagi pelaku usaha lokal. Menurutnya, program ini bukan sekadar pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga membuka pasar yang jelas dan berkelanjutan bagi pemasok bahan pangan.

“Para supplier tidak perlu khawatir, karena sudah ada penampungnya. Ini yang harus kita giatkan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, penguatan peran koperasi, BUMDes, dan UMKM menjadi kunci dalam menjaga kestabilan pasokan. Setiap dapur MBG bahkan diwajibkan memiliki minimal 15 supplier agar rantai distribusi berjalan sehat dan sesuai standar.

“Jika tidak memenuhi, akan diberikan peringatan dan waktu dua minggu untuk perbaikan. Rantai pasok ini harus benar-benar terjamin,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah pusat ingin memastikan program MBG berjalan dengan sistem distribusi pangan yang kokoh, berkelanjutan, dan berpihak pada pelaku usaha lokal.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi BP Batam, Denny Tondano, memaparkan dukungan yang disiapkan untuk memperkuat ekosistem pangan daerah. Ia menyebut BP Batam siap mendorong petani lokal agar masuk dalam rantai pasok utama program MBG.

Selain itu, BP Batam juga menyiapkan dukungan infrastruktur, termasuk optimalisasi distribusi melalui Pelabuhan Batuampar yang kini telah dilengkapi sistem pelayanan berbasis aplikasi untuk mempermudah proses logistik.

“Menyangkut bahan dari luar daerah, perizinannya akan kami bantu,” kata Denny.

BP Batam juga mendorong pengembangan sektor pangan dari hulu ke hilir, mulai dari program hatchery, budidaya ikan dan udang, hingga industri pengolahan seperti fillet, frozen food, dan ready meal.

“Kami juga menyiapkan lahan untuk mendukung pengembangan ini. Kolaborasi dalam program makan bergizi gratis sangat kami dukung,” tambahnya.

Meski demikian, sejumlah peserta forum menyoroti tantangan keberlanjutan pasokan pangan di Batam. Saat ini, petani lokal dinilai masih belum menjadi pemain utama dan lebih sering berperan sebagai pemasok cadangan.

Menanggapi hal itu, Denny memastikan pihaknya akan menyiapkan lahan sesuai kebutuhan dan potensi wilayah agar petani lokal dapat berperan lebih besar ke depan.

Namun, ia juga mengingatkan adanya persoalan di lapangan, seperti penyalahgunaan lahan yang dipinjamkan namun justru diperjualbelikan oleh oknum tertentu.

Karena itu, menurutnya, pembangunan ekosistem pangan untuk mendukung MBG tidak hanya soal ketersediaan lahan dan pasokan, tetapi juga membutuhkan tata kelola perdagangan yang tertib dan terukur.

“Yang paling penting adalah bagaimana kita mengatur sistem perdagangannya agar berjalan baik,” tandasnya.(Egi)


Redaktur: ZB



Share on Social Media