Batam
Juliadi | Jumat 01 May 2026 13:23 WIB | 441
Para buruh yang tergabung dalam berbagai aliansi pekerja memadati Lapangan WTB. (Foto: Adi)
Matakepri.co.id, Batam -- Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day tahun 2026 di Batam berlangsung dengan gelombang aksi yang masif di kawasan ikonik Welcome To Batam (WTB) berubah menjadi lautan massa, Jumat (1/5/2026).
Ribuan pekerja yang tergabung dalam berbagai aliansi buruh berkumpul, membawa satu misi krusial: mendesak pemerintah menuntaskan revisi Undang-Undang Ketenagakerjaan yang lebih berpihak pada kesejahteraan pekerja.
Aksi ini bukan sekadar seremonial tahunan. Para buruh datang dengan membawa urgensi hukum terkait Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 168 Tahun 2024. Putusan tersebut memberikan mandat tegas kepada pemerintah dan DPR untuk merampungkan regulasi ketenagakerjaan baru paling lambat pada Oktober 2026.
Massa aksi menegaskan bahwa mereka akan terus mengawal janji tersebut agar tidak sekadar menjadi wacana di atas kertas, mengingat tenggat waktu yang semakin dekat.
Ketua Konsulat Cabang FSPMI Batam, Yafet Ramon, membakar semangat massa dengan narasi tentang realitas pahit di lantai pabrik. Ia menyoroti fenomena jam kerja ekstrem yang masih melilit para pekerja.
"Di dalam pabrik-pabrik, jam kerja yang lebih dari 12 jam tidak ada istirahatnya. Tidak ada perhatian lagi untuk keluarganya," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa perjuangan kali ini adalah upaya mengembalikan hak dasar manusia yang telah diakui secara global yakni, bekerja delapan jam, istirahat delapan jam dan waktu bersama keluarga delapan jam.
"Pengurangan jam kerja dari 12–15 jam menjadi 8 jam adalah harga mati. Kita adalah pendorong ekonomi dunia, kita adalah penggerak ekonomi Indonesia, maka kita layak mendapatkan waktu untuk keluarga," tegasnya.
Peringatan May Day tahun ini menjadi pengingat keras bagi para pengambil kebijakan di Jakarta. Bagi ribuan buruh di Batam, perubahan regulasi bukan sekadar revisi pasal-pasal, melainkan upaya mengembalikan hak hidup yang lebih manusiawi bagi mereka yang menjadi tulang punggung ekonomi bangsa. (Adi)
Redaktur : ZB