Batam

LAM Batam Usulkan Perubahan Nama 46 Simpang dan Bundaran

Juliadi | Minggu 17 May 2026 14:26 WIB | 294

Pemko Batam


Gedung Lembaga Adat Melayu Kota Batam. (Foto: Adi)


Matakepri.co.id, Batam --  Di tengah pesatnya pembangunan Kota Batam menuju metropolis modern, langkah besar untuk merawat ingatan sejarah tengah digulirkan. Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepulauan Riau Kota Batam secara resmi mengusulkan perubahan nama puluhan simpang dan bundaran strategis di Kota Batam.


Tak tanggung-tanggung, LAM Batam mengusulkan 46 titik simpang dan bundaran untuk diubah menggunakan nama-nama tokoh besar Melayu, pahlawan, pejuang, hingga istilah yang sarat akan nilai sejarah dan budaya tempatan.


Beberapa titik ikonik yang selama ini akrab di telinga masyarakat menggunakan nama populer atau nama komersial, diusulkan bertransformasi total:

1. Bundaran Punggur, diusulkan menjadi Bundaran Sultan Abdul Rahman Muazzamsyah II

2. Simpang Frengky, diusulkan menjadi Simpang Opu Daeng Celak

3. Simpang KDA, diusulkan menjadi Simpang Opu Daeng Kemboja

4. Simpang Kabil / K-Square, diusulkan menjadi Simpang Opu Daeng Marewa

5. Simpang Gelael, diusulkan menjadi Simpang Opu Daeng Perani

6. Simpang Bengkong Harapan, diusulkan menjadi Simpang Junjung Budaya


Selain nama-nama di atas, LAM Kepri Kota Batam juga menyertakan nama tokoh-tokoh besar tamadun Melayu seperti Raja Haji Fisabilillah, Raja Ali Haji, Engku Putri Raja Hamidah, hingga Datuk Riwayat Melayu untuk diabadikan di ruang publik Batam.


Meski demikian, LAM tetap bersikap realistis dengan mempertahankan beberapa nama lama yang dinilai sudah memiliki akar historis kuat di masyarakat, seperti Simpang Batu Besar dan Simpang Sungai Harapan, yang nantinya akan diperkuat sebagai identitas kawasan.


Ketua Umum LAM Kepri Kota Batam, Raja Muhamad Amin, menegaskan bahwa langkah ini merupakan benteng untuk memperkuat identitas budaya Melayu di tengah arus modernisasi Batam.


"Penamaan simpang dan bundaran ini bukan sekadar pergantian nama, tetapi bentuk penghormatan terhadap sejarah, tokoh Melayu, serta warisan budaya yang harus terus dikenalkan kepada generasi muda," ungkapnya.


Senada dengan hal itu, Sekretaris Umum LAM Batam, Muhammad Yunus, berharap usulan ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah. Ia menilai ruang publik harus menjadi cermin dari jati diri "Tanah Melayu" yang mulai tergerus zaman.


"Penggunaan nama tokoh Melayu di ruang publik diharapkan dapat mengingatkan masyarakat terhadap akar sejarah dan budaya daerah," tuturnya.


Langkah berani LAM Batam ini diprediksi akan memicu diskusi hangat di tengah masyarakat. Perubahan nama fasilitas publik berskala besar seperti ini tentu tidak sederhana—akan ada penyesuaian administratif, pembaruan peta digital (seperti Google Maps), pergantian papan penunjuk jalan, hingga adaptasi lidah masyarakat yang sudah telanjur akrab dengan nama-nama lama. (Adi)


Redaktur : ZB



Share on Social Media