Batam, News
Riki | Jumat 13 Mar 2026 13:33 WIB | 563
RDPU membahas kecelakaan tugboat di perairan PT ASL, Kamis (12/3/2026). Foto : Adi
Matakepri.co.id, Batam - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Batam bergerak cepat merespons tragedi tenggelamnya kapal tugboat ASL Mega di perairan PT ASL yang terjadi pada 6 Maret 2026 lalu. Guna mencari titik terang dan memastikan hak-hak korban terpenuhi, DPRD menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) lintas komisi, bertempat di ruang rapat pimpinan yang langsung dipimpin langsung oleh Wakil Ketua I DPRD Kota Batam, H. Aweng Kurniawan, Kamis (12/3/2026).
Aweng menegaskan bahwa RDPU ini merupakan bentuk tanggung jawab DPRD sebagai perpanjangan tangan masyarakat.
Ia tak ingin informasi mengenai kecelakaan yang merenggut nyawa tersebut terus berkembang liar di publik tanpa adanya klarifikasi resmi.
“Kami melaksanakan RDPU ini atas dasar laporan masyarakat dan organisasi. Kami ingin mendengar langsung laporan dari instansi terkait agar informasi yang berkembang tidak simpang siur dan menjadi tidak sehat di tengah masyarakat. Kami butuh keterangan yang pasti dan valid,” tegas Aweng.
Ia menekankan agar perusahaan tidak hanya fokus pada santunan, tetapi juga melakukan evaluasi total terhadap sistem keselamatan kerja.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Disnakertrans Provinsi Kepri, Diky Wijaya, menambahkan bahwa meski industri galangan kapal memiliki risiko tinggi, standar K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) adalah harga mati.
"Kami masih menunggu hasil investigasi dari KSOP karena domain kejadian berada di perairan. Kami perlu memastikan apakah ada faktor kelalaian atau murni faktor alam," ujar Diky.
Dalam rapat tersebut, Manajer Agensi PT Pradana Samudra Lines, Moh. Fathur Akbar, membeberkan kronologi insiden maut tersebut. Ia menjelaskan bahwa kecelakaan bermula saat kapal tugboat ASL Mega sedang membantu proses sandar (mooring) kapal besar.
Namun, cuaca buruk tiba-tiba datang menerjang dengan kecepatan angin mencapai 40 knot disertai ombak besar. Kapal yang awalnya berada di sisi kiri diperintahkan berpindah ke sisi kanan untuk menyelamatkan diri dari hantaman cuaca. Sayangnya, saat manuver dilakukan, arus dan ombak yang kuat membuat kapal hilang keseimbangan hingga terbalik. (Adi)
Redaktur : ZB