Batam, News, Kepri
Egi | Kamis 09 Jul 2026 18:49 WIB | 67
Dokkes Polresta Barelang melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap Helena (foto: Alvie)
Matakepri.co.id Batam - Di sebuah rumah kontrakan sederhana di kawasan Kavling Senjulung, Kabil, Kota Batam, tangisan seorang ibu pecah ketika bantuan datang mengetuk pintunya.
Watina Lala tak kuasa menahan haru saat melihat kepedulian yang diberikan kepada putrinya, Helena Tabintang Dakhi. Bayi berusia delapan bulan itu telah berbulan-bulan berjuang melawan hidrosefalus, penyakit yang menyebabkan cairan menumpuk di otak sehingga ukuran kepalanya terus membesar.
Di gendongan sang ibu, Helena tampak lemah. Sesekali ia menangis pelan, sementara Watina berusaha menenangkan dengan usapan lembut di kepala putrinya.
Bagi Watina, setiap hari adalah perjuangan yang tidak mudah. Sejak mengetahui kondisi Helena saat masih berusia satu minggu, ia terus dihantui rasa cemas. Namun keterbatasan ekonomi membuat langkahnya terhenti ketika harus membawa sang buah hati menjalani pengobatan secara rutin.
"Sejak usia satu minggu saya sudah tahu ada kelainan di kepalanya," tutur Watina lirih.
Kehidupan yang dijalani keluarga ini semakin berat ketika suaminya tidak lagi berada di rumah. Selama sekitar sepekan terakhir, Watina harus menghadapi semuanya seorang diri.
Dengan tiga anak yang membutuhkan perhatian dan seorang bayi yang harus mendapatkan perawatan khusus, ia berusaha tetap tegar meski sering kali merasa tidak sanggup menghadapi kenyataan.
Dalam situasi yang serba sulit itu, Watina mengaku pernah merasakan keputusasaan yang begitu dalam. Ia sempat berpikir untuk menyerah. Namun naluri seorang ibu membuatnya bertahan.
Sebuah unggahan di media sosial tentang bayi yang dibuang justru menjadi titik yang mengubah pikirannya. Saat melihat kisah tersebut, ia membayangkan jika hal serupa terjadi pada Helena.
Hatinya tersentuh. Ia sadar bahwa putrinya tetap membutuhkan kasih sayang dan perjuangan tanpa syarat dari seorang ibu.
"Saya sedih melihat anak yang dibuang. Dari situ saya berpikir, bagaimanapun dia anak saya," ujarnya sambil menatap Helena.
Kini, yang tersisa dalam benak Watina hanyalah harapan. Harapan agar putrinya mendapat kesempatan menjalani pengobatan yang layak dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Selama ini kebutuhan sehari-hari Helena, mulai dari susu, popok hingga makanan bayi, sebagian besar diperoleh dari bantuan orang-orang yang peduli terhadap kondisi mereka.
Kehadiran Polresta Barelang membawa secercah harapan bagi keluarga kecil tersebut. Selain menyerahkan bantuan kebutuhan bayi, tim kesehatan juga melakukan pemeriksaan langsung terhadap kondisi Helena.
Kasi Dokkes Polresta Barelang, Iptu dr. Syarifah, mengatakan pihaknya akan membantu proses layanan kesehatan Helena agar segera mendapatkan penanganan lebih lanjut.
"BPJS Helena sudah aktif dan terdaftar di Puskesmas Kampung Jabi. Selanjutnya akan kami bantu untuk pemeriksaan dan penanganan medis," katanya.
Kisah Helena mungkin hanya satu dari sekian banyak cerita yang luput dari perhatian. Namun di balik cerita itu, ada sosok ibu yang terus berjuang menjaga harapan meski hidup dalam keterbatasan.
Bagi Watina, kebahagiaan tidak diukur dari kemewahan ataupun harta. Ia hanya ingin melihat putrinya bisa tumbuh, bermain, dan tersenyum seperti anak-anak lain seusianya.
Dan bagi Helena, perjuangan itu masih panjang. Namun selama masih ada tangan-tangan yang peduli dan hati yang tergerak untuk membantu, harapan untuk sembuh akan selalu ada. (Egi)
Redaktur: ZB